Wisata Gua Unik di Labuan Bajo

Wisata Labuan Bajo tidak hanya tentang hewan purba komodo dan pemandangan eksotis dalam kawasan Taman Nasional Komodo. Di seputaran Labuan Bajo, ada 4 wisata gua unik, yaitu Gua Rangko, Istana Ular, Liang Bua, dan Batu Cermin.

Wisata gua unik Labuan Bajo berikut ini akan memberikan pengalaman dan sensasi tersendiri ketika sedang berwisata di Labuan Bajo.

  1. 1. Wisata gua unik Rangko, kolam renang alami di perut bumi
    1. 1.1 Pesona gua Rangko
    2. 1.2. Letak Gua Rangko
    3. 1.3. Akses Gua Rangko
    4. 1.4. Tips Berwisata di Gua Rangko
  2. 2. Istana ular di Pulau Ular, Flores
    1. 2.1 Pesona wisata gua unik istana ular
    2. 2.2 Letak gua istana ular
    3. 2.3 Legenda, kisah istana ular
    4. 2.4. Akses tempat wisata gua unik istana ular
    5. 2.4. Tips berwisata di Istana Ular
  3. 3. Liang Bua, Rumah Hobit Flores
    1. 3.1. Pesona wisata gua unik Liang Bua
    2. 3.2. Letak objek wisata Liang Bua
    3. 3.3. Akses menuju Liang Bua
  4. 4. Wisata Gua Batu Cermin Labuan Bajo
    1. 4.1. Pesona wisata gua Batu Cermin
    2. 4.2. Lokasi gua batu cermin
    3. 4.3 Akses gua batu cermin
    4. 4.4. Tips wisata gua batu cermin
  5. Penutup

1. Wisata gua unik Rangko, kolam renang alami di perut bumi

1.1 Pesona gua Rangko

Gua Buaya, demikian dikenal oleh masyarakat setempat. Gua itu menawarkan kolam renang alami dalam keheningan perut bumi. Tak perlu khawatir, meskipun disebut gua Buaya, di dalamnya tidak ada buaya.

Gua Buaya adalah salah satu objek wisata gua unik di Labuan Bajo. Gua Buaya dijuluki sebagai kolam alami di perut bumi yang seakan menjadi kolam renang pribadi dengan menawarkan ketenangan untuk pengunjung.

Uniknya, kendati kolam ini berada di dalam gua tetapi rasa airnya asin. Air laut masuk ke dalam gua melalui celah-celah sempit bebatuan.Air laut merembes masuk dan kemudian tertampung di satu cerukan yang dihiasi stalaktit dan stalakmit juga menjadi lukisan lain di kolam renang alami tersebut.

1.2. Letak Gua Rangko

Gua tersebut berada Pulau Gusung. Dilansir dari Indonesia.go.id, gua Buaya tersebut terpisah dari Pulau Flores. Lebih tepatnya terpisah oleh perairan Tanjung Boleng. Gua unik tersebut berada di Pulau Gusung. Pulau Gusung tak berpenghuni. Namun, Pulau Gusung memiliki keindahan terumbu karang alami dan dangkal hingga 100 meter dari bibir pantai. Air lautnya pun masih sangat jernih.

1.3. Akses Gua Rangko

Gua Buaya ini dikenal luas dengan wisata gua Rangko. Tempat wisata ini berada di Desa Rangko, Kecamatan Boleng. Letaknya relatif dekat dengan Labuan Bajo, 15 Km dari Labuan Bajo.

Dari Rangko pengunjunga menempuh waktu kurang lebih 40 menit dengan menyewa kapal nelayan untuk sampai di Pulau Gusung. Setibanya di kawasan Pulau Gusung, pengunjung melewati dermaga kayu yang dilengkapi titian sepanjang 200 meter menuju bibir pantai. Pengunjung harus menaklukkan jalur setapak sejauh hampir 500 meter sebelum tiba di mulut gua.

Selain memanfaatkan jalur darat dari pusat kota Labuan Bajo, pengunjung juga bisa menyewa perahu motor di Pelabuhan Labuan Bajo. Waktu tempuhnya paling cepat 50 menit hingga 70 menit untuk sampai di Pulau Gusung.

1.4. Tips Berwisata di Gua Rangko

Waktu terbaik mengunjungi gua unik ini sebaiknya sebelum pukul 15.00 ketika matahari masih tinggi. Air kolamnya sangat jernih hingga membuat bebatuan stalagmit yang berada di dasar kolam terlihat sangat jelas. Apalagi jika ditimpa pendaran sinar matahari hingga dasar kolam di kedalaman empat meter.

Ketika berwisata di gua Rangko dan Pulau Gusung, sediakan perbekalan yang cukup. Karena selain tidak ada warung makan di lokasi objek wisata, pengunjung juga sedikit sulit mendapatkan air bersih termasuk untuk minum.

2. Istana ular di Pulau Ular, Flores

2.1 Pesona wisata gua unik istana ular

Jika tertarik dengan hewan melata ular, mampirlah di destinasi superprioritas Labuan Bajo yang terbentang dari dari Kabupaten Bima (NTB) hingga Kabupaten Alor.  Di dalam kawasan destinasi ini, ada dua spot wisata ular, yaitu Pulau Ular di Kabupaten Bima dan istana ular di Kabupaten Manggarai Barat. Kedua spot wisata ini ini sudah banyak dikunjungi wisatawan.

Istana ular adalah gua alami dengan lorong yang sangat panjang. Konon, ada ular putih ukuran besar yang disebut-sebut sebagai raja para ular di sana. Di dalam istana ular, ada berbagai macam jenis ular dengan ukuran dan warna berbeda-beda, ada yang warna hitam, hijau, putih, belang-belang, coklat.

Mengutip Antara, diperkirakan dari pintu masuk sampai ke pintu keluar sekitar lima Km. Orang kesulitan untuk menjangkau karena kekurangan oksigen. Gua istana ular memang pengap dan berawa-rawa. Dengan kondisi gua yang panjang, pengap dan rawa, gua ini juga menjadi habitat untuk kelelawar, mangsa bagi ular di situ.

Hingga kini belum ada yang berhasil menjangkau hingga ujung lorong  gua tersebut. Diceritakan bahwa pernah ada vloger yang coba menembusi lorong gua, tetapi hanya mampu mencapai 300 meter dari mulut gua.

2.2 Letak gua istana ular

Tempat wisata gua unik istana ular ini berjarak sekitar 76 Km dari kota Labuan Bajo. Spot wisata ini persisnya berada di Desa Galang, Kecamatan Welak. Dari pusat Desa Galang, istana ular berjarak kurang lebih 3,5 KM dan dari Kampung Weto sekitar 500 meter. 

2.3 Legenda, kisah istana ular

Pulau ular adalah sebutan untuk Pulau Flores pada masa lalu.  Dulu, Flores disebut Nusa Nipa. Flores disebut sebagai Pulau ular karena beberapa alasan, antara lain bentuk pulau yang memanjang seperti ular, Flores adalah habitat ular dan adanya kepercayaan penduduk yang terkait dengan ular.

Hingga kini, untuk memasuki gua istana ular, mesti didahului dengan ritual adat setempat. Ritual itu berupa teing tuak dengan mempersembahkan sebutir telur ayam. Ritual itu bisa disebut sebagai ucapan permisi dan restu sekaligus panggilan kepada sesama saudara ular untuk bisa menampakkan diri kepapa pengunjung. Jika niatnya tidak baik, ular-ular itu akan merasa terganggu.

Gua Istana ular berhubungan dengan salah satu subsuku Manggarai yaitu,  suku Ronggot. Bagi warga Ronggot, ular-ular yang ada di gua tersebut adalah saudara mereka sendiri. Karena itu¸ acara ritual sebelum memasuki gua hanya bisa dilaksanakan oleh keturunan Ronggot.

Ada dua versi legenda yang beredar tentang istana ular. Pertama, ular-ular itu adalah hasil perkawinan sedarah kakak-adik yang melakukan hubungan sedarah. Mereka kemudian diasingkan dan tinggal di gua. Hasil perkawinan incest tersebut adalah ular dan kemudian kakak-adik tersebut menjadi ular juga. Dipercaya bahwa kedua orang itu masih ada sampai sekarang.

Versi yang kedua adalah pernikahan antara manusia pria dengan ular yang menjelma menjadi manusia jadi-jadian. Ular-ular yang ada di istana ular itu merupakan hasil perkawinan antara manusia dengan makhluk halus (darat/kakar tana dalam bahasa setempat). Laki-laki tersebut adalah Latim yang merupakan orang Ronggot. Kemudian, darat/kakar tana yang menjelma menjadi manusia disebut Ndasam. Kemudian ular yang menjelma menjadi perempuan cantik itu mengajak Latim untuk tinggal bersama di dalam gua sebagai suami-istri, yang kini dikenal sebagai istana ular. Ular-ular yang ada adalah hasil perkawinan antara keduanya.

Di samping legenda, masyarakat setempat meyakini  bahwa perbuatan yang dapat menyakiti ular akan berbalik kepadanya. Kalau ularnya tidak mati dan cacat, hal itu akan berbalik ke pelaku atau keturunan pelaku. Dalam bahasa setempat, hal itu disebut itang. Untuk menyembuhkan, biasanya biji kemiri dibakar. Setengahnya untuk menyembuhkan pelaku dan setengahnya lagi untuk menyembuhkan ular.

2.4. Akses tempat wisata gua unik istana ular

Istina ular gencar dipromosikan mulai pada tahun 2017. Wisata gua istana ular dikembangkan menjadi wisata minat khusus yang menawarkan sensasi dan pengalaman berbeda. Sebagai destinasi wisata, tempat ini mulai ditata dengan menyediakan fasilitas penunjang.

Istana ular agak jauh dari perkampungan. Istana ular adalah tempat istimewa bagi pencinta reptil. Pengunjung melihat ular langsung di habitat aslinya.

Untuk mencapai spot wisata ini, pengunjung menempuh perjalanan 2-3 jam dari Labuan bajo. Selah tiba di desa Galang perjalanan tinggal kurang lebih 20 menit hingga tiba di mulut gua. Sebelum sampai di titik gua, mata wisatawan akan bersua dengan pohon kemiri yang menjadi komoditas unggulan masyarakat setempat.

2.4. Tips berwisata di Istana Ular

Saat mengunjungi istana ular, dilarang mabuk-mabukan, membuang sampah sembarangan, dan apalagi kalau membunuh hewan yang ada.

3. Liang Bua, Rumah Hobit Flores

3.1. Pesona wisata gua unik Liang Bua

Situs Liang Bua merupakan situs peninggalan dari zaman prasjerah. Situs ini banyak dikunjuni dan dijadikan tempat penelitian, baik oleh peneliti dalam negeri maupun luar negeri.

Manusia purba yang ada di gua ini memang mencuri perhatian dunia arkeologi karena dari berat dan tingginya mirip Hobbit. Fosil ini ditemukan pada 2003 yang membuat nama Gua Liang Bua menjadi dikenal seluruh dunia. Gua ini menjadi tempat tinggal bagi manusia Homo Floresiensis atau Hobbit dari Flores.

Liang bua berasal dari bahasa manggarai-Flores. Secara harifiah liang berarti gua dan bua berarti dingin. Karen itu, liang bua diartikan sebagai gua dingin atau gua sejuk.  Gua ini adalah gua karst yang terbentuk karena proses cuaca.

Liang bua memiliki ukuran yang dalam  dan lebar, atapnya tinggi, serta lantai gua yang luas dan relative datar. Mullut gua menghadap ke timur laut sehingga mendapatkan sinar matahari yang cukup. Sirkulasi udaranya lancar.

Situasi di dalam gua yang memiliki ukuran tinggi atap bagian dalam 25 meter, lebar 40 meter, dan panjang 50 meter. Lokasinya berada di sekitar 200 meter dari pertemuan Sungai Wae Rancang dan Wae Mulu. Dari dua sungai inilah temuan batuan artefak dan arteak batu, seperti rijang, kalsedon dan tufa kersikan.

Secara geologis, gua ini bentukan endokars yang berkembang pada batu gamping. Bentukan endokars itu berselingan dengan batu gamping pasiran. Batuan gamping itu diperkirakan berasal dari periode Miosen tengah atau sekitar 15 juta tahun yang lampau.

Dari uji laboratorium sampel sediman di pojok selatan Gua Liang Bua terbentuk dari 190.000 tahun silam. Gua ini terbentuk dari bebatuan yang terbawa arus sungai hingga terbentuk gundukan bukit. Dari dalam gua anda juga dapat melihat stalaktit yang menawan menjuntai di langit-langit gua. Pemandangan ini dapat dinikmati dengan mudah karena gua ini dijadikan tempat wisata dan tempat penelitian kelas internasional.

Di gua inilah ditemukan fosil Homo Floresiensis. Yang membuatnya unik adalah, banyak penelitian menunjukkan manusia purba yang ditemukan berukuran kecil atau kerdil. Manusia purba yang ada di gua ini memang mencuri perhatian dunia arkeologi karena dari berat dan tingginya mirip Hobbit.

Fosil ini ditemukan pada 2003 yang membuat nama Gua Liang Bua menjadi dikenal seluruh dunia. Gua ini menjadi tempat tinggal bagi manusia Homo Floresiensis atau Hobbit dari Flores, ini terlihat dengan ditemukan potongan rangka, rahang bawah, perkakas bekas Homo Erectus, serta sisa-sisa tulang Stegodon (gajah purba) kerdil, biawak raksasa, serta tikus besar. Hampir semua lapisan yang mengandung temuan tersebut berusia antara 95.000-12.000 tahun silam.

3.2. Letak objek wisata Liang Bua

Gua liang Bua merupakan salah satu situs arkeologi penting dunia. Gua Liang Bua berlokasi di Dusun Golo Manuk, Desa Liang Bua, Kecamatan Rahong Utara, Kabupaten Manggarai, Flores. Kordinat 080 31’50,4’ LS dan 1200 26’ 36,9’ BT dengan ketinggian +500 m di atas permukaan laut.

3.3. Akses menuju Liang Bua

Letak Liang Buta tidak terlalu jauh dari Kota wisata religi Ruteng. Jaraknyanya kurang lebih 13 kilometer dari Ruteng. Dan, untuk mencapai kesasa pengungjung dapat menggunakan angkutan umum.

Dilansir dari cagarbudaya.kemendikbud.go.id, situs Liang Bua pertama kali ditemukan oleh seorang misionaris Belana, Pastor Theodore Verhoven pada tahun 1957.  Penelitian pertama oleh Verhoven yang melakukan penggalian secara amatir dilakukan pada tahun 1965.

Kemudian, penelitian selanjutnya  dilakukan oleh Pusat Penelitian Arkeologi Nasional tahunn 1973 dan tahun 1979. Berikutnya, pada tahun 2001-2004 penelitian di Liang Bua dilakukan oleh R.P Soejono dan bekerja sama dengan peneliti Asing Mike Morwood dari Australia.

4. Wisata Gua Batu Cermin Labuan Bajo

4.1. Pesona wisata gua Batu Cermin

Gua ini disebut gua batu cermin karena bebatuan dinding gua memantulkan cahaya. Pantulan cahaya disebabkan oleh dinding gua yang mengandung banyak garam. Ketika dindingnya mendapat sinar matahari, maka sinar itu akan terpantul. Karena itu, waktu terbaik untuk mengunjungi spot wisata ini adalah Pkl. 09.00 sampai Pkl. 12.00 siang hari. Pada jam-jam tersebut, pengunjung bisa melihat sinar matahai yang memantul di diinding gua.

Tentang gua batu cermin ini, salah satu hal yang tercatat adalah penelitian arkeologi oleh Theodore Verhoven pada 1951. Arkeolog tersebut adalah seorang imam Katolik berkebangsaan Belanda yang mengajar di Seminari Mataloko. Hasil penelitiannya mengungkapkan bahwa  gua batu cermin merupakan bagian dari ekosistem purba bawah laut.

Sebagaimana dilansir Antara, pada tahun 1980-an, gua batu cermin merupakan tempat wisata masyarakat lokal. Belum ada pungutan untuk wisatawan. Dalam perjalanan selanjutnya, pemerintah daerah kemudian menetapkan tarif masuk ke kawasan itu sebesar Rp2.000,-/orang.

Objek wisata ini kian dikenal luas ketika Pemerintah Indonesia menyelenggarakan Sail Komodo di Labuan Bajo pada tahun 2013. Lalu, Labuan Bajo ditetapkan sebagai Bali Baru dan kemudian sebagai destinasi pariwisata superprioritas. Gua batu cermin menjadi salah satu objek wisata yang mendapat perhatian untuk ditata dan dilengkapi berbagai fasilitas penunjang.

Gua batu cermin dihiasi dengan stalaktit dan stalagmit bermotif ukiran alami yang terbentuk jutaan tahun lampau. Di dalam gua ada ruang luas dan besar, kira-kira berukuran 200 meter persegi. Uniknya, di langit-langit ruang utama kita bisa menyaksikan relief-relief unik yang menonjol.

Pada salah satu bagiannya terdapat relief berbentuk mirip seperti penyu yang sedang merayap di langit-langit gua. Fosil penyu merupakan salah satu bentuk fosil fauna bawah laut yang memenuhi langit-langit gua. 

Setelah melihat aneka fosil kehidupan bawah laut di ruang utama, pengunjung dapat beranjak ke ruang lain. Ruangan inilah menjadi alasan utama dari nama gua batu cermin tersebut. Terdapat bias sinar matahari yang masuk dari sebuah celah besar dan sangat tinggi, tepat di atas kepada, menerobos masuk sehingga membuat suasana di dalam gua menjadi terang.

Pendaran sinar sang surya yang mengenai dinding batu-batu stalaktit dan stalagmit akan memantul dan tampak berkilauan. Pantulan cahaya itu seperti cahaya yang mengenai cermin. Pantulan tersebut disebabkan oleh karakter batu karang purba. Batuan jenis ini bagus untuk memantulkan sinar dan sekeras apa pun kita berteriak di ruang ini tidak akan menciptakan gema.

4.2. Lokasi gua batu cermin

Pesona wisata alam di Kota Labuan Bajo beraneka ragam. Di dalam kota saja, ada satu spot wisata yang bisa memberikan informasi tentang kehidupan bawah laut masa lalu. Spot wisata itu adalah gua batu cermin. Sebelum berkunjung ke sana, berikut beberapa hal yang perlu diketahui tentang spot wisata tersebut.

4.3 Akses gua batu cermin

Posisi objek wisata gua batu cermin sangat strategis karena letaknya tak jauh dari pusat kota dan juga tidak jauh Bandara Internasional Komodo, Labuan Bajo.  Jaraknya sekitar 15 menit berkendara menyusuri jalan beraspal mulus di dalam kota.

Sesampai di lokasi wisata ini, pengunjung akan berjalan kaki menuju pusat spot wisata gua batu cermin. Di kiri-kanan jalan setapak, pengunjung akan melewati rumpun bambu yang melengkung indah dengan hembusan angin sepoi-sepoi.  Jika beruntung, pengunjung juga akan berjumpa dengan kawanan kera ekor panjang.

Tidak sampai 10 menit berjalan kaki, pengunjung akan sampai di ujung jalan setapak dan dihadapkan dengan susunan batu-batu karang besar warna gelap hingga setinggi 70 meter. Demikianlah tampak luar gua batu cermin.

4.4. Tips wisata gua batu cermin

Saat menjelajah gua batu cermin, ada beberapa hal yang harus diperhatikan, seperti gunakan pakaian kasual dan alas kaki anti slip.

Sebelum memasuki bagian dalam gua, para pemandu akan meminta pengunjung untuk memakai helm keselamatan. Pelindung kepala ini telah disediakan di dekat pintu masuk gua. Pengunjung wajib menggunakan pelindung kepala agar tidak terbentur dengan atap gua yang penuh stalaktit.

Apalagi, stalaktit di pintu masuk agak rendah dan lorong untuk masuk pun sangat sempit. Kondisi seperti ini mengharuskan pengunjung berjalan merunduk bahkan sampai sedikit berjongkok dan ekstra hati-hati  ketika menyusuri lororng gua agar tidak terbentur dinding gua atau terperosok.    

Penutup

Ketika sudah menginjakkan kaki di Labuan Bajo, mampirlah sejenak di beberapa tempat wisata gua unik tersebut. Rasakan sensasi keunikan masing-masing gua, seperti mandi di kolam renang pribadi di perut bumi, istana ular, sejarah kehidupan purba di Liang Bua dan pantulan cahaya bagai cermin di dalam perut bumi.

Leave a Comment