Wisata di Ende, Bumi Pancasila

Wisata di Ende salah salah satu pilihan untuk menikmati pesona wisata di Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur. Ende memiliki hampir semua jenis objek wisata. Ada wisata alam seperti Kelimutu, wisata budaya, dan wisata sejarah. Fasilitas penunjang wisata di Ende cukup memadai. Potensi wisata ini tinggal dikembangkan dalam suatu roadmap dan grand design oleh pihak-pihak terkait demi bagi pengembangan pariwisata di Ende

  1. 1. Wisata di Ende, Kota Sejarah di Flores
  2. 2. Pesona Wisata di Ende
    1. 2.1 Wisata Sejarah
      1. 2.1.1 Taman Renungan Bung Karno
      2. 2.1.2 Rumah Pengasingan Ir. Soekarno
      3. 2.1.3 Serambi Bung Karno Ende
    2. 2.2 Wisata Alam
      1. 2.2.1 Danau Tiga Warna
      2. 2.2.2 Taman Nasional Kelimutu
      3. 2.2.3 Wisata Alam yang Lain
    3. 2.3 Wisata Budaya
      1. 2.3.1 Suku Ende Lio
      2. 2.3.2 Kampung Megalitikum Wolotopo
  3. 3. Kesiapan Wisata                                 
    1. 3.1. Aksesibilitas
    2. 3.2 Akomodasi wisata di Ende
    3. 3.3 Layanan Pendukung
  4. 4. Isu Pengembangan Wisata di Ende

1. Wisata di Ende, Kota Sejarah di Flores

Ende merupakan salah satu ibu kota Kabupaten yang ada di Pulau Flores, Provinsi Nusa Tenggara Timur yaitu Kabupaten Ende Lio.  Kota yang bercumbu dengan Laut Sawu ini juga dapat menjadi pilihan untuk berakhir pekan di Flores. Dilansir dari Wikipedia.org, kepadatan penduduk kota Ende pada tahun 2021, sebesar 1.360 jiwa/Km.

Penduduk kota Ende terdiri dari banyak suku. Akan tetapi, ada dua suku yang paling dominan yaitu suku Lio dan Suku Ende. Suku Ende menyebar di sepanjang pantai sebelah barat kota Ende. Sementara suku Lio kebanyakan tersebar di daerah pegunungan dan sebagiannya tersebar di wilayah bagian timur, pantai selatan Kabupaten Ende.

Di kota Ende, dua suku tersebut melebur jadi satu dalam suasana kekeluargaan yang kental. Menariknya, dua suku besar tersebut dengan tangan terbuka menerima dan merangkul suku-suku lain yang datang dan memilih Ende sebagai rumahnya.

Ende dijuluki sebagai kota sejarah. Hal ini beralasan terutama atas peristiwa pembuangan Bung Karno. Bung Karno tinggal di Ende selamat 4 tahun. Dikutip dari laman DetikEdu, Bung Karno diasingkan di Ende mulai 14 Januari 1934 hingga 18 Oktober 1938.

Pembuangan di Ende ini sedemikian membekas bagi perjalanan Bangsa Indonesia. Di Ende, Bung Karno mendapat inspirasi untuk merenungkan nilai-nilai luhur bangsa yang kemudian menjadi dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia. Demikianlah, rumusan Pancasila yang diusulkan oleh Ir. Soekarno merupakan hasil permenungan ketika sedang dalam pengasingan di Kota Ende.

2. Pesona Wisata di Ende

2.1 Wisata Sejarah

2.1.1 Taman Renungan Bung Karno

Kisah permenungan butir-butir Pancasila juga dikaitkan dengan pohon sukun, yang mana di bawah pohon tersebut Bung Karno kerap menghabiskan waktu dalam permenungan. Pohon yang asli memang sudah tumbang, tetapi kemudian diganti. Pohon Sukun tersebut dijuluki sebagai Pohon Pancasila.

Tempat permenungan tersebut sudah ditata sedemikian menjadi taman yang indah. Taman ini menjadi tempat yang ramai dikunjungi wisatawan. Ketika sedang berada di Ende, sebaiknya mampirlah di tempat ini siapa tahu ada inspirasi untuk perjalanan Anda sebagai anak Bangsa. Apalagi, letaknya tidak jauh dari situs Rumah Pengasingan Ir. Soekarno.

2.1.2 Rumah Pengasingan Ir. Soekarno

Situs Rumah Pengasingan Ir. Soekarno merupakan tempat tinggal Ir. Soekarno bersama keluarga selama masa pengansingan di Ende. Rumah tersebut merupakan milik Haji Abdullah Ambuwaru. Setelah kemerdekaan, Presiden Soekarno mengunjungi Ende untuk pertama kali pada tahun 1951 dan bertemu dengan pemilik rumah. Dalam kunjungan tersebut disetujuan bahwa rumah tersebut dijadikan museum.

Pada kunjungan kedua tahun 1954, Presiden Soekarno meresmikan rumah tersebut sebagai museum. Rumah museum tersebut tercatat sebagai  bangunan cabar budaya, dengan nama Rumah Pengasingan Ir. Soekarno di Ende.

2.1.3 Serambi Bung Karno Ende

Masih terkait dengan sejarah pembuangangan Presiden Pertama RI, tempat lain yang wajib dikunjungi adalah Serambi Bung Karno Ende.  Serambi Bung Karno Ende ini berada di Biara Santo Yoef Kathedral Endel. Serambi ini diresmikan pata tahun 2019.

Dikenang bahwa selama pembuangan di Ende, Bung Karno bersahabat dengan para imam misionaris SVD di Ende.  Bung Karno juga menghabiskan waktu untuk berdikusi dengan para pastor dan membaca buku di tempat tersebut.

2.2 Wisata Alam

2.2.1 Danau Tiga Warna

Danau Kelimutu terdiri dari 3 danau dengan warna berbeda dan kerap kali berubah-ubah. Ada tiga warna dominan, yaitu merah, biru dan putih.

Luas keseluruhan ketiga danau tersebut sekitar 1.051.000 meter persegi dengan volume air 1.292 juta meter kubik. Dinding kawah sangat terjal dengan sudut kemiringan sekitar 70 derajat. Ketinggian dinding kawah danau berkisar 100-200 Meter.

Para ilmuwan sendiri belum memiliki pendapat yang sama tentang perubahan warna yang terjadi pada danau. Ada yang berpendapat bahwa perubahan warna karena letusan dari gunung. Selain itu perubahan warna juga tergantung pada suhu, mikroba dan gas.

Ahli yang berpendapat berpendapat perubahan warna terjadi karena aktivitas gunung yang mengalami erupsi dan menghasilkan gas terus menerus. Juga warna kawah berubah karena pembiasan cahaya dari dinding kawah. Hal lain yang turut menyebabkan perubahan warna adalah microorganisme yang hidup di dasar kawah.

Daya Magis Danau Tiga Warna

Bagi masyarakat setempat pada saat danau berubah warna, maka harus diberikan sesajen bagi arwah yang telah meninggal. Dalam mitos Lio dua danau yang berdekatan, yaitu Tiwu Ata Polo dan Tiwu Nuwa Muri Koo Fai jika telah bercampur jadi satu, maka dunia akan kiamat.

Belum lagi, kerap kali terjadi perubahan warna yang tidak dapat dipredidiksi sehingga kesan mistis sesuai kepercayaan masyarakat setempat menjadi kuat. Sementera para ahli belum memberikan jawaban yang sama atas pertanyaan mengapa terjadi perubahan warna di tiga danau tersebut.

Hal lain adalah keberadaan fauna edemik Kelimutu, yaitu burung Gerugiwa (Monarch asp) yang dikenal sebagai burung arwah. Burung ini memiliki 11 suara yang berbeda.

Mitos Danau Tiga warna

Konon, sepasang muda mudi yang merupakan anak yatim minta perlindungan kepada Ata Bupu. Ata Bupu adalah seorang tokoh yang dihormati karena sifatnya yang berbelas kasih. Permintaan kedua anaka yatim itu dikabulkan dengan syarat mereka harus tetap tinggal di areal ladangnya.

Sementara itu, ada seorang penyihir jahat yang suka memangsa manusia bernama Ata Polo. Ata Polo dan Ata Bupu berteman baik. Pada satu hari Ata Polo datang menjenguk Ata Bupu di ladangnya. Setibanya di ladang Ata Bupu, Ata Polo mencium bau manusia. Ata Polo masuk ke pondok dan mencari manusia yang ada dalam pondok. Namun, niat itu ditahan oleh Ata Bupu sambil menyarankankan untuk datang kembali setelah anak-anak tersebut sudah dewasa. Ata Polo menerima saran itu.

Ketika kedua anak itu beranjak dewasa, merea memohon izin kepada Ata Bupu untuk mencari tempat peresembunyian. Mereka berhasil menemukan gua yang terlindung dari tububuhan rotan dan akar beringin.

Ketika Ata Polo kembali untuk memangsa kedua remaja itu, dia murka kepada Ata Bupu karena dikhiantai. Terjadilan pertarungan hebat diantara keduanya. Pertanungan itu menimbulkan gempa bumi dan kebakaran hebat hingga kaki gunung Kelimtu. Ata Bupu yang sudah tua kian lemah, sementara serangan dari Ata Polo semakin gencar.

Ketika merasa tak mampu lagi menandingi kekuatan Ata Polo, Ata Bupu memutuskan untuk raib ke perut bumi. Ata Polo semkian menggila. Akhirnya, Ata Polo juga raib ke perut bumi. Demikian juga gua tempat persembunyian kedua remaja tadi raib ke perut bumi.

Dengan demikian, terbentuklah tiga kawah. Kawah Tiwu Ata Mbupu merupakan tempat raibnya Ata Bupu dan bagi Suku Lio kawah tersebut merupakan tempat bersemayam orang tua. Kemudian, Tiwu ata polo untuk tempat raibnya Ata Polo dan bagi Suku Lio kawah yang biasanya berwarna merah merupakan tempat bersemayamnya arwah orang yang berperilaku buruk, meninggalt idak wajar. Dan, Tiwu Nuwa Muri Koo Fai merupakan kawah di manwa kedua remaja raib dan bagi Suku Lio kawah tersebut menjadi tempat bersemayam arwah bagi muda-mudi.

2.2.2 Taman Nasional Kelimutu

Taman Nasional Kelimutu merupakan satu-satunya taman nasional yang memiliki gunung api aktif dengan kawah danau lebih dari dari satu. Kemudian, warnanya berbeda-beda untuk masing-masing kawah.

Luas Taman Nasional Kelimutu kurang lebih 5.356,50 ha. Dibandingkan dengan taman nasional lainnya di Indonesia, kawasan konservasi ini merupakan yang  terkecil. Meskipun kecil, taman nasional ini menyimpan beragam kekayaan alam yang sebagiannya jenis langka dan endemik.

Di dalam kawasan Taman Nasional Kelimutu terdapat dua puncak gunung, yaitu Gunung Kelimutu dengan ketinggian 1.690 mdpl dan Gunung Kelibara dengan ketinggian 1.731 Mdpl. Aktivitas vulkaniknya berpengaruh terhadap perubahan warna danau Kelimutu dan ketika aktivitas vulkanik meningkat, tanaman vaccinium yang dominan akan mengering.

Tercatat bahwa kawah danau Kelimutu ditemukan oleh warga negara Belanda B. van Suchtelen pada tahun 1915. Kemudian Y Bouman membuat tulisan tentang Kelimutu pada tahun 1929 yang mengundang perhatian dunia. Wisatawan kemudian berdatangan untuk menikmati panorama danau yang bagi masyarakat setempat merupakan daerah yang angker.

Letusan perdana gunung Kelimutu tercatat pada tahun 1830 dengan letusan dahsyat. Kemudian letusan kedua terjadi pada tahun 1860 s.d 1870. Aktivitas dengan intensitas tinggi juga terjadi pada tahun 1968.

Penetapan sebagai kawasan taman nasional dimulai pada tahaun 1984. Melalui Surat Keputusan Menteri Kehutanan No 185/Kpts-II/1984 pada tanggal 4 oktober  1984, kawasan Danau Kelimutu ditetapkan sebagai kawasam cagar alam Danau Kelimtu dengan luas 16 hektar.

Selanjutnya, kawasan ini ditetapkan sebagai kawasan taman nasional berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kehutanan, SK No. 279/Kpts-II/92. Semula luasnya 5000 hekatar. Kemudian pada tahun 1997, kawasan ini makin luas melalui Surat Keputusan Menteri Kehutanan SK No. 675/Kpts-II/97 menjadi 5356,5 hektar. Dengan demikian, secara keseluruhan luas kawasan Taman Nasional Danau Kelimutu adalah 5356,5 hektar.

Kepercayaan Suku Lio atas Danau Tiga Warna

Danau tiga warna memiliki relasi yang kuat berhungan dengan Suku Lio. Suku Lio merupakan salah satu suku di Kabupaten Ende yang kebanyakan tersebar di daerah pegunungan dan sebagiannya tersebar di wilayah bagian timur, pantai selatan Kabupaten Ende. Suku Lio yang hidup di sekitar Taman Nasional Kelimutu hidup secara harmonis dengan alam yang jelas tergambar dariperayaan-perayaan budaya.

Orang Lio Meyakini bahwa ada penguasa yang berkuasa atas kawah danau Kelimutu yang disebut Ratu Konde. Danau kelimutu dipercaya sebagai tempat tinggal arwah leluhur. Dalam  kepercayaan penduduk sekitar, 3 kawah di puncak gunung kelimutu merupakan tempat tinggal arwah. Usia dan perilku selama hidup akan menentukan tempat semayam arwah.

Kawah Tiwu Ata Mbupu yang biasanya berwarna biru merupakan tempat bersemayam orang tua. Luas danau ini kurang lebih 4,5 hektar. Kemudian, Tiwu ata polo yang biasanya berwarna merah merupakan tempat bersemayamnya arwah orang yang berperilaku buruk, meninggalt idak wajar. Luasnya kerurang lebih 4 hektar dengan kedalaman dangkal 64 meter. Dan, Tiwu Nuwa Muri Koo Fai yang biasanya berwarna hijau merupakan tempat arwah bagi muuda-mudi. Luasnya sekitar 5,5 hektar.

Berhubungan erat dengan kepercayaan masyarakat Lio, salah satu upacara budaya yang dijalankan adalah Pati Ka Doá Bapu Ata Mata, yaitu ritual memberikan makan arwah leluhur di Situs Pati Ka yang dipimpin oleh mosalaki. Persembahan yang disiapkan ayam dan dan sirih pinang untuk penunggu kelimutu dan leluhur. Pada acara  ritual ini ada juga makan bersama dan tarian gawi bersama.

2.2.3 Wisata Alam yang Lain

2.2.3.1 Pantai Ria dalam kota Ende

Salah satu objek wisata dalam kota yang ramai dikunjungi adalah Pantai Ria. Selain menikmati pemandangan alam, pengujung juga merasakan sensasi deburan ombak laut Sawu. Sebagai tempat wisata, di pantai ini sudah tersedia berbagai fasilitas yang menunjang untuk berwisata. Di pantai ini, setelah bermain-main di lautan, Anda bisa menikmati air kelapa muda yang diajajakan di seputaran pantai Ria.

2.2.3.2 Gunung Meja dan Iya

Di Ende, pengunjung akan terkesima dengan puncak gunung yang langka. Lazimnya, puncak gunung berbentuk segitiga dan mengerucut. Tetapi, di Ende ada gunung yang puncak datar seperti meja. Gunung ini dinamai Gunung meja dan juga menjadi salah satu hal yang ikonik di kota Ende.

Bersebelahan dengan gunung Meja, pengunjung bisa menikmati waktu untuk trekking. Ketinggian gunung Iya sekitar 637. Sudah tersedia jalur trekking untuk merengkuh puncak gunung tersebut.

2.2.3.3 Wisata Alternantif di Taman Nasional Kelimutu

Pesona Kelimutu tidak hanya terletak pada kawah danau tiga warna. Daya tarik lain adalah keragaman hayati di sekitar danau. Beberapa dari keragaman hayati Kelimutu merupakan flora dan fauna yang langka dan endemik.

Ada sekitar 100 spesies flora tumbuh di dalam kawasan. Ada dua yang endemic yaitu Uta Onga (Begonia kelimutuensis) dan Turuwara (Rhondodenro renschianum). Terdapat 78 jenih pohon yang tumbuh dalam kawasan yang digolongkan ke dalam 36 suku. Fauna edemiknya adalah buru Gerugiwa (Monarch asp) yang dikenal sebagai burung arwah. Burung ini memiliki 11 suara yang berbeda.

Berwisata di Kelimutu tidak sekedar untuk melihat kawah, tetapi juga banyak hal lain yang melengkapi cerita wisata, seperti bangunan persinggahan/istirahat bagi pegawai Belanda dan juga Perekonde sebagai pintu masuk arwah menuju Kawah Kelimtu.

2.3 Wisata Budaya

2.3.1 Suku Ende Lio

2.3.1.1 Rumah Adat

Rumah adat Ende Lio disebut Rumah Mosalaki. Selain sebagai tempat tinggal, rumah adat juga menjadi tempat berlansungnya berbagai upacara budaya. Banyak hal unik dari rumah Mosalaki ini, antara lain berbentuk rumah panggung, fondasi rumah terletak di atas batu besar dan tidak di tanam, bahan utama untuk atapnya adalah jerami yang disusun dan bertumpu pada atap. Atap rumah menjulang tinggi dan berbentuk seperti perahu layar. Pada bagian atas terdapat symbol kolo Mosalaki (Kepala rumah keda) dan kolo ria (kepala rumah besar).

2.3.1.2 Kesenian Tradisional Gawi

Di Ende, pengunjung juga berkenalan dengan Tarian Gawi. Tarian tradisional ini sudah menjadi warisan budaya tak Benda. Tarian ini merupakan tarian massal yang melibatkan banyak orang. Sebelumnya tarian ini dimain pada acara-cara budaya. Tetapi, kini tarian ini juga meluapkan kegembiraan dalam berbagai perayaan besar.

2.3.1.3 Motif Tenun Ikat

Bagi pencinta motif tenun untuk koleksi, Ende akan memperkaya koleksi dan informasi seputar tenun ikat. Untuk Ende dan Lio ada perbedaan tenunan untuk laki dan perempuan. Tenunan untuk pria biasanya berwarna dasar hitam atau biru kehitaman dengan jalur mendatar yang disebut ragi/luka.

Untuk kaum perempuan, motif tenunnya berupa gambar flora dan fauna. Dan, untuk selendang didominasi oleh motif bunga yang selingi garis hitam kecil dan pada bagian ujungnya berupa rumbai-rumbai.

2.3.2 Kampung Megalitikum Wolotopo

Mengutip Kusi dan Rero (2020: 157), Wolotopo berasal dari dua suku kata yitu wolo yang berarti bukit dan topo yang berarti parang. Maka, Wolotopo diartikan sebagai bukit parang. Nama ini masih dipertahanakan sampai sekarang.

Pemberian nama tersebut berhubungan dengan nama tempat persinggahan nenek moyang ketika sedang bermigrasi menuju daerah yang kemudian dipilih sebagai tempat untuk menetap, yaitu Biri Welotopo. Tempat tersebut masih ada sebagai bukti pengginggalan nenek moyang yang berupa tugu batu yang letaknya berada di sebelah timur kampung Wolotopo.

Kampung Wolotopo tidak terlalu jauh dari Kota Ende. Wotopo berada 12 Km dari kota Ende dan dapat ditempuh sekitar 20-30 Menit. Kampung Wolotopo berada di Kecamatan Ndona, Kabupaten Ende Lio, Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Kampung adat wolotopo, merupakan salah satu kampung  megalitikkum yang sering dikunjungi wisatawan. Apalagi, pemerintah setempat telah menjadikan Kampung Wolotopo sebagai salah satu destinasi wisata budaya. Selain sebagai tempat wisata, kampung Wolotopo kerap kali menjadi tempat penelitian budaya. Juga, wolotopo meinginspirasi penulis untuk menghasilkan karya sastra sepeti, Novel Ata Mai, Sang Pendatang oleh Maria D Andriana.

Wotopo merupakan salah satu kampung dengan warisan Megalitikum suku Lio yang masih dipertahankan. Kondisi geografisnya berupa lereng dan berhadapan langsung dengan laut Sawu. Uniknya, masyarakat setempat mendirikan rumah di lereng tersebut di atas susunan batu. Meskipun kampung itu sudah tua, batu-batu yang tersusun itu tidak longsor. Bahkan, ketika gempa besar melanda Flores pada tahun 1992, batu-batu yang tersusun tersebut tidak bergeser.

Kekhasan megalitikum akan terlihat pada makam leluhur yang disebut Bahaku. Selain itu, di tengah kampung, pengunjung akan menjumpai tumpukan batu yang disebut Tubu Musu sebagai perlambang laki-laki.

3. Kesiapan Wisata

3.1. Aksesibilitas

Wisata di Ende didukung oleh berbagai fasilitas. Akses untuk wisata di Ende sudah menunjang. Dari luar Flores dapat ditempuh dengan penerbangan menuju Ende. Atau, pengunjung juga bisa melalui Bandara Frans Seda di Maumere dan selanjutnya perjalanan darat menuju Ende. Sementara itu, dari Labuan Bajo ditempuh dengan perjalanan darat sepanjang jalan Negara trans Flores. Kota Ende juga memiliki dermaga Ipi Ende. Pengujung dapat juga mengunjugi Ende melalui jalur laut. Sudah ada pelabuhan.

3.2 Akomodasi wisata di Ende

Ada banyak hotel dan penginapan di Kota Ende. Jika memutuskan untuk menikmati semua pesona wisata di Ende, semestinya tidak perlu khwatis soal penginapan. Harga yang ditawarkan juga bisa dijangkau oleh kalangan. Ada banyak layanan pemesanan kamar hotel. Traveloka, misalnya, menawarkan 49 hotel untuk menginap di Kota Ende. Sementara Tiket.com menawarkan promo penginapan murah di Kota Ende.

3.3 Layanan Pendukung

Lembaga keuangan juga cukup memadai di Kota Ende. Beberapa Bank Besar ada di Ende, BNI, Bank Mandiri, Western Union, Sinar Mas dan lain-lain. Demikian juga untuk komunikasi, jaringan telpon dan internet sudah memadai.

4. Isu Pengembangan Wisata di Ende

Koordinator Kelompok Studi Ende Bergerak, Agustinus Tetiro, mengatakan, kabupaten Ende mempunyai banyak sekali potensi dan destinasi wisata. Destinasi wisata di Ende pun sangat beragam.

“Ende memiliki hampir semua jenis objek wisata. Ada wisata alam seperti Kelimutu, Tangga Alam, pantai dan lain-lain. Ada objek wisata budaya seperti  kegiatan dan ritual adatnya yang beragam. Ada wisata rohani dan sejarah seperti gereja dan biara-biara tua ataupun tempat pengasingan Bung Karno,” jelas Gusti.

Kota Ende memiliki banyak pesona wisata yang memberikan kesegaran dan inspirasi baru bagi pengunjung. Potensi wisata yang ada terus dikembangkan dan dipoles untuk menarik lebih banyak wisatawan berkunjung ke Kota Ende

Gusti berharap, Pemda dalam hal ini Pemkab Ende harus bisa membuat suatu roadmap dan grand design bagi pengembangan pariwisata di Ende. Rancangan besar pariwisata Ende harus bisa melibatkan banyak pihak, serta berdampak berkelanjutan untuk penggairahan ekonomi masyarakat luas, terutama bagi warga Ende pemilik budaya, alam dan sejarah di daerahnya.

Gusti juga memberi catatan penting lain untuk pengembangan pariwisata Ende, yakni kurangnya narasi yang dibangun. Menurut Gusti, Ende membutuhkan sejumlah narator yang bisa dengan rutin dan komprehensif memperkenalkan Ende dalam berbagai wahana mulai dari media mainstream hingga media sosial.

“Tentu saja untuk hal ini, kita membutuhkan sejumlah SDM dengan kekuatan wacana untuk bisa menarik dan mempengaruhi publik agar bisa memberi perhatian dan berkunjung ke Ende,” ungkap Gusti.

Leave a Comment