Wisata Budaya Megalitikum Wolotopo, Kota Ende Flores

Photo of author

By UWA

Tempat wisata Wolotopo Ende merupakan salah satu kampung adat di Kabupaten Ende yang telah dijadikan sebagai destinasi wisata. Ada beberapa kampung yang bisa dikunjungi dari Ende untuk merasakan sensasi magis warisan leluhur suku Lio. Salah satu kampung adat yang dekat dengan kota Ende adalah Kampung Adat Wolotopo.

Pengunjung bisa memilih berkunjung ke Wolotop sebelum atau sesudah mengunjungi danau tiga warna di Taman Nasional Kelimutu. Alangkah baik kalau mengunjungi kampung megalitikum ini pada sore hari atau pagi hari agar dapat melihat bagaimana aktivitas masyarakat yang hidup dalam tradisi yang kuat.

Sebelum menginjakkan kaki di kampung tersebut, berikut ini beberapa informasi sebagai bekal untuk berwisata di kampung adat Wolotopo.

Nama Wolotopo

Mengutip Kusi dan Rero (2020: 157), Wolotopo berasal dari dua suku kata yitu wolo yang berarti bukit dan topo yang berarti parang. Maka, Wolotopo diartikan sebagai bukit parang. Nama ini masih dipertahanakan sampai sekarang.

Pemberian nama tersebut berhubungan dengan nama tempat persinggahan nenek moyang ketika sedang bermigrasi menuju daerah yang kemudian dipilih sebagai tempat untuk menetap, yaitu Biri Welotopo. Tempat tersebut masih ada sebagai bukti peninggalan nenek moyang yang berupa tugu batu yang letaknya berada di sebelah timur kampung Wolotopo.

Tempat wisata Wolotopo Ende, kampung adat megalitikum

Kampung Wolotopo tidak terlalu jauh dari Kota Ende. Wotopo berada 12 Km dari kota Ende dan dapat ditempuh sekitar 20-30 Menit. Kampung Wolotopo berada di Kecamatan Ndona, Kabupaten Ende Lio, Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Kampung adat Wolotopo, merupakan salah satu kampung  megalitikkum yang sering dikunjungi wisatawan. Apalagi, pemerintah setempat telah menjadikan Kampung Wolotopo sebagai salah satu destinasi wisata budaya. Selain sebagai tempat wisata, kampung Wolotopo kerap kali menjadi tempat penelitian budaya. Juga, Wolotopo meinginspirasi penulis untuk menghasilkan karya sastra seperti Novel Ata Mai, Sang Pendatang oleh Maria D Andriana.

Wotopo merupakan salah satu kampung dengan warisan Megalitikum suku Lio yang masih dipertahankan. Kondisi geografisnya berupa lereng dan berhadapan langsung dengan laut Sawu. Uniknya, masyarakat setempat mendirikan rumah di lereng tersebut di atas susunan batu. Meskipun kampung itu sudah tua, batu-batu yang tersusun itu tidak longsor. Bahkan, ketika gempa besar melanda Flores pada tahun 1992, batu-batu yang tersusun tersebut tidak bergeser.

Kekhasan megalitikum akan terlihat pada makam leluhur yang disebut Bahaku. Selain itu, di tengah kampung, pengunjung akan menjumpai tumpukan batu yang disebut Tubu Musu sebagai perlambang laki-laki.

Mengenal rumah adat

Kampung Wolotopo memiliki rumah adat yang disebut Sao Ria Tenda Bewa. Rumah ini dihuni oleh beberapa keluarga. Di dalam rumah adat disimpan gading dan perlengkapan untuk acara budaya.

Rumah Wolotopo sudah bertahan beberapa generasi. Hingga kini, ada dua rumah adat yang masih ada, yaitu yaitu Sao  Atarobo dan Sao Ata Laki. Pada masa lalu, ada 4 rumah adat di Wolotopo, yaitu Sao Ata Laki, Sao Atarobo, Sao Taringgi, dan Sao Sue.

Tidak jauh dari rumah adat, pengunjung akan bertemu satu satu bangunan kecil yang disebut Kedha Kanga. Kedha Kanga merupakan bangunan kayu berukuran kecil dimana tulang para leluhur disimpan.

Leave a Comment