Tempat Wisata Ende, Kota Sejarah dan Eksotis

Photo of author

By UWA

“Ende memiliki hampir semua jenis objek wisata. Ada wisata alam seperti Kelimutu, Tangga Alam, pantai dan lain-lain. Ada objek wisata budaya seperti  kegiatan dan ritual adatnya yang beragam. Ada wisata rohani dan sejarah seperti gereja dan biara-biara tua ataupun tempat pengasingan Bung Karno.”

Agustinus Tetiro, Koordinator Kelompok Studi Ende Bergerak.

Koordinator Kelompok Studi Ende Bergerak, Agustinus Tetiro, mengatakan, kabupaten Ende mempunyai banyak sekali potensi dan destinasi wisata. Destinasi wisata di Ende pun sangat beragam.

Berikut ini uwa.co.id coba menampilkan beberapa destinasi wisata di kota Ende.

Kota sejarah, pembuangan Soekarno dan inspirasi Pancasila

Ende dijuluki sebagai kota sejarah. Hal ini beralasan terutama atas peristiwa pembuangan Bung Karno. Bung Karno tinggal di Ende selamat 4 tahun. Dikutip dari laman DetikEdu, Bung Karno diasingkan di Ende mulai 14 Januari 1934 hingga 18 Oktober 1938.

Pembuangan di Ende ini sedemikian membekas bagi perjalanan Bangsa Indonesia. Di Ende, Bung Karno mendapat inspirasi untuk merenungkan nilai-nilai luhur bangsa yang kemudian menjadi dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia. Demikianlah, rumusan Pancasila yang diusulkan oleh Ir. Soekarno merupakan hasil permenungan ketika sedang dalam pengasingan di Kota Ende.

Rumah Pengasingan Ir. Soekarno

Situs Rumah Pengasingan Ir. Soekarno merupakan tempat tinggal Ir. Soekarno bersama keluarga selama masa pengansingan di Ende. Rumah tersebut merupakan milik Haji Abdullah Ambuwaru. Setelah kemerdekaan, Presiden Soekarno mengunjungi Ende untuk pertama kali pada tahun 1951 dan bertemu dengan pemilik rumah. Dalam kunjungan tersebut disetujuan bahwa rumah tersebut dijadikan museum.

Pada kunjungan kedua tahun 1954, Presiden Soekarno meresmikan rumah tersebut sebagai museum. Rumah museum tersebut tercatat sebagai  bangunan cabar budaya, dengan nama Rumah Pengasingan Ir. Soekarno di Ende.

Taman Renungan Bung Karno

Kisah permenungan butir-butir Pancasila juga dikaitkan dengan pohon sukun, yang mana di bawah pohon tersebut Bung Karno kerap menghabiskan waktu dalam permenungan. Pohon yang asli memang sudah tumbang, tetapi kemudian diganti. Pohon Sukun tersebut dijuluki sebagai Pohon Pancasila.

Tempat permenungan tersebut sudah ditata sedemikian menjadi taman yang indah. Taman ini menjadi tempat yang ramai dikunjungi wisatawan. Ketika sedang berada di Ende, sebaiknya mampirlah di tempat ini siapa tahu ada inspirasi untuk perjalanan Anda sebagai anak Bangsa. Apalagi, letaknya tidak jauh dari situs Rumah Pengasingan Ir. Soekarno.

Serambi Bung Karno Ende

Masih terkait dengan sejarah pembuangangan Presiden Pertama RI, tempat lain yang wajib dikunjungi adalah Serambi Bung Karno Ende.  Serambi Bung Karno Ende ini berada di Biara Santo Yoef Kathedral Endel. Serambi ini diresmikan pata tahun 2019.

Dikenang bahwa selama pembuangan di Ende, Bung Karno bersahabat dengan para imam misionaris SVD di Ende.  Bung Karno juga menghabiskan waktu untuk berdikusi dengan para pastor dan membaca buku di tempat tersebut.

Pesona budaya

Suku Ende Lio

Ende merupakan salah satu ibu kota Kabupaten yang ada di Pulau Flores, Provinsi Nusa Tenggara Timur yaitu Kabupaten Ende Lio.  Kota yang bercumbu dengan Laut Sawu ini juga dapat menjadi pilihan untuk berakhir pekan di Flores. Dilansir dari Wikipedia.org, kepadatan penduduk kota Ende pada tahun 2021, sebesar 1.360 jiwa/Km.

Penduduk kota Ende terdiri dari banyak suku. Akan tetapi, ada dua suku yang paling dominan yaitu suku Lio dan Suku Ende. Suku Ende menyebar di sepanjang pantai sebelah barat kota Ende. Sementara suku Lio kebanyakan tersebar di daerah pegunungan dan sebagiannya tersebar di wilayah bagian timur, pantai selatan Kabupaten Ende.

Di kota Ende, dua suku tersebut melebur jadi satu dalam suasana kekeluargaan yang kental. Menariknya, dua suku besar tersebut dengan tangan terbuka menerima dan merangkul suku-suku lain yang datang dan memilih Ende sebagai rumahnya.

Kesenian tradisional Gawi

Di Ende, pengunjung juga berkenalan dengan Tarian Gawi. Tarian tradisional ini sudah menjadi warisan budaya tak Benda. Tarian ini merupakan tarian massal yang melibatkan banyak orang. Sebelumnya tarian ini dimain pada acara-cara budaya. Tetapi, kini tarian ini juga meluapkan kegembiraan dalam berbagai perayaan besar.

Motif tenun ikat

Bagi pencinta motif tenun untuk koleksi, Ende akan memperkaya koleksi dan informasi seputar tenun ikat. Untuk Ende dan Lio ada perbedaan tenunan untuk laki dan perempuan. Tenunan untuk pria biasanya berwarna dasar hitam atau biru kehitaman dengan jalur mendatar yang disebut ragi/luka.

Untuk kaum perempuan, motif tenunnya berupa gambar flora dan fauna. Dan, untuk selendang didominasi oleh motif bunga yang selingi garis hitam kecil dan pada bagian ujungnya berupa rumbai-rumbai.

Rumah adat Mosalaki

Rumah adat Ende Lio disebut Rumah Mosalaki. Selain sebagai tempat tinggal, rumah adat juga menjadi tempat berlansungnya berbagai upacara budaya. Banyak hal unik dari rumah Mosalaki ini, antara lain berbentuk rumah panggung, fondasi rumah terletak di atas batu besar dan tidak ditanam, bahan utama untuk atapnya adalah jerami yang disusun dan bertumpu pada atap. Atap rumah menjulang tinggi dan berbentuk seperti perahu layar. Pada bagian atas terdapat symbol kolo Mosalaki (Kepala rumah keda) dan kolo ria (kepala rumah besar).

Banyak spot wisata alam

Danau tiga warna Kelimutu, ikon wisata alam

Taman Nasional Kelimutu adalah salah satu taman nasional yang ada di Pulau Flores. Taman Nasional ini memiliki lahan seluas kurang lebih 5.000 hektare. Kawasan Taman Nasional ini memiliki daya tarik yang luar biasa, yaitu danau Kelimutu.

Danau kelimutu terdiri dari 3 danau dengan warna berbeda dan kerap kali berubah-ubah. Ada tiga warna dominan, yaitu merah, biru dan putih. Masing-masing danau memiliki nama masing-masing, yaitu Tiwu Ata Polo untuk warna Merah, Tiwu Ua Muri Koo Fai untuk danau biru dan Tiwu ata Mbupu untuk danau Putih.

Pantai Ria dalam kota Ende

Salah satu objek wisata dalam kota yang ramai dikunjungi adalah Pantai Ria. Selain menikmati pemandangan alam, pengujung juga merasakan sensasi deburan ombak laut Sawu. Sebagai tempat wisata, di pantai ini sudah tersedia berbagai fasilitas yang menunjang untuk berwisata. Di pantai ini, setelah bermain-main di lautan, Anda bisa menikmati air kelapa muda yang diajajakan di seputaran pantai Ria.

Gunung Meja dan Iya

Di Ende, pengunjung akan terkesima dengan puncak gunung yang langka. Lazimnya, puncak gunung berbentuk segitiga dan mengerucut. Tetapi, di Ende ada gunung yang puncak datar seperti meja. Gunung ini dinamai Gunung meja dan juga menjadi salah satu hal yang ikonik di kota Ende.

Bersebelahan dengan gunung Meja, pengunjung bisa menikmati waktu untuk trekking. Ketinggian gunung Iya sekitar 637. Sudah tersedia jalur trekking untuk merengkuh puncak gunung tersebut.

Roadmap dan grand design pariwisata di Ende

“… kita membutuhkan sejumlah SDM dengan kekuatan wacana untuk bisa menarik dan mempengaruhi publik agar bisa memberi perhatian dan berkunjung ke Ende.”

Agustinus Tetiro, Koordinator Kelompok Studi Ende Bergerak.

Kota Ende memiliki banyak pesona wisata yang memberikan kesegaran dan inspirasi baru bagi pengunjung. Potensi wisata yang ada terus dikembangkan dan dipoles untuk menarik lebih banyak wisatawan berkunjung ke Kota Ende

Gusti berharap, Pemda dalam hal ini Pemkab Ende harus bisa membuat suatu roadmap dan grand design bagi pengembangan pariwisata di Ende. Rancangan besar pariwisata Ende harus bisa melibatkan banyak pihak, serta berdampak berkelanjutan untuk penggairahan ekonomi masyarakat luas, terutama bagi warga Ende pemilik budaya, alam dan sejarah di daerahnya.

Gusti juga memberi catatan penting lain untuk pengembangan pariwisata Ende, yakni kurangnya narasi yang dibangun. Menurut Gusti, Ende membutuhkan sejumlah narator yang bisa dengan rutin dan komprehensif memperkenalkan Ende dalam berbagai wahana mulai dari media mainstream hingga media sosial.

“Tentu saja untuk hal ini, kita membutuhkan sejumlah SDM dengan kekuatan wacana untuk bisa menarik dan mempengaruhi publik agar bisa memberi perhatian dan berkunjung ke Ende,” ungkap Gusti.

Leave a Comment