Songke Cibal Mewarnai Festival Golo Koe

Photo of author

By UWA

Songke adalah kisah tentang kasih ibu yang memberi kehangatan kepada yang dicintainya. Seorang Ibu dengan hati yang tulus, menenun dengan telaten dan cekatan dalam ikatan budaya yang kental. Songke juga adalah kisah tentang nilai-nilai luhur yang selalu menyertai hidup manusia.

Rm. Tarsy (tengah), Pastor Paroki  Santu Antonius Padua Ri’i bersama kelompok tenun Wela Waso dalam satu kesempatan pada Festival Golo Koe

Labuan Bajo tengah berpesta dalam rangkaian Festival Golo Koe. Festival tersebut berlangsung dari tanggal 8 hingga 15 Agustus 2022. Salah satu hal yang menjadi perhatian festival yang digagas Keuskupan Ruteng tersebut adalah mengangkat kerarifan lokal dalam berbagai produk..

Paroki  Santu Antonius Padua Ri’i turut mewarnai Festival Golo Koe. Rm. Tarsy Syukur selaku Pastor Paroki menghadirkan hasil karya kelompok tenun Wela Waso di parokinya dalam pameran selama festival berlangsung.

Kelompok tenun Wela Waso mempersembahkan lipa songke, selendang, topi dan selempang. Narti, yang mewakili kelompok tenun, menyampaikan bahan tenun yang digunakan benang emas, benang perak, benang premium, dan benang sutra.

Untuk songke, ada beberapa jenis songke yang dipamerkan. Ibu Bernadeta, ketua kelompok tenun, menyampaikan beberapa jenis songke hasil karya kelompok tenun Wela Waso, yaitu songke lego lonto molas, songke taeng wina, songke caci, songke roko molas poco, songke barong wae dan songke tiba ntaung weru.

Ada banyak motif yang menghiasi tenunan yang dipamerkan. Motif-motif tersebut menceritakan dan merawat warisan luhur karya kasih tentang kehidupan. Beberapa motif tenun songke yang ada antara lain motif ceka tupat yang menggambarkan rasa syukur masyarakat Manggarai atas semua kelimpahan rejeki, kesehatan dan kesejahteraan yang diterimanya.

Ada juga motif jok yang mengangkat vertical  (tongkeng) antara manusia dengan Tuhan dan hubungan horisontal (Labang) antara manusia dengan sesama serta alam sekitar. Motif Jok mengisahkan tentang hidup dalam kedekatan dengan Sang Pemberi hidup. Berkat-berkat itu juga tidak terlepas dari sesama dan alam ciptaan.

Dalam tenun songke terdapat juga motif yang mengetengahkan tentang manusia Manggarai yang penuh kejujuran dan bekerja secara cepat, tepat dan penuh tanggung jawab. Motif ini dikenal dengan motif Ranggong.

Terkait dengan kesatuan dan keutuhan lingkungan, songke juga memiliki motif libo. Motif ini menggambarkan mata air sebagai sumber hidup, sumber kesegaran, sumber kelimpahan dan sumber berkat. Songke mengingatkan kita akan kesatuan dan keterjalinan hidup dalam jejaring semesta alam.

Akhirnya, disadari bahwa manusia yang hanya berziarah/melakukan perjalanan di dunia (mose dokong one lino) dan akan kembali kepada Sang Pencipta. Semua hal dalam kehiudupan manusia ada batasnya. Kesadaran ini tergambar dalam motif Su’i Lulur.

Motif-motif tersebut dipadukan yang menghiasi tenunan songke. Melalui Songke, penenun  terpanggil untuk merawat dan bersaksi tentang hidup dalam keindahan dan keagungan songke. Mewakili kelompok tenun,

Salah satu jenis tenunan Songke Cibal dari Kelompok Tenun Wela Waso

Dalam menghasilkan tenunan songke, kelompok tenun Wela Waso tetap mempertahankan bagaimana pendahulu menggunakan alat-alat yang diambil dari alam dan dibentuk sesuai nilai-nilai yang dihidupi. Adapun alat tradisional yang digunakan, antara lain wongka, sisir kain, helung ine dan anak, bampang, bila, keropong, tampang,keliri, lihur. Dan, ada beberapa tahapan menenun songke, yaitu pidik, paki, pilih jok, susi, pilih songke, tentang, penara.

Kaum ibu di Manggarai menghasilkan Songke sebagai ungkapan syukur dan kesaksian bagi yang mengenakannya akan kehangatan Kasih Sang Pecipta dan ikatan yang kuat dalam jejaring kehidupan bersama sesame manusia dan alam sekitar.

Mengenakan songke adalah kembali kepada Kasih Ibu sekaligus memberi kesaksian tentang keagunan warisan leluhur. Songke mengingat kita tentang nilai-nilai hidup yang menghagatkan dalam keindahan dan ketelatenan untuk menjaga dan merawat kehidupan. Menghantar kita untuk selalu optimis bahwa Sang Pencipta selau menyertai ziarah kita.

Festival Golo Koe mengangkat tema “Mewujudkan Pariwisata Yang Berakar Kuat dan Bertumbuh dalam Keunikan dan Kekayaan Kultur dan Spiritual Setempat.” Festival Golo Koe kiranya menjadi jalan bagi hasil karya masyarakat lokal untuk dikenal luas sekaligus membuka peluang baru untuk bekerja sama dengan berbagai pihak untuk meningkatkan kesejahteraan bagi penenun.

Leave a Comment