Penguatan Pertanian dan Pariwisata Superprioritas

Photo of author

By UWA

Penulis: Timotius J

Melalui sektor pertanian, masyarakat yang tinggal dalam kawasan pengembangan pariwisata superprioritas dapat terlibat aktif mendukung pariwisata. Dengan demikian, industri pariwisata tidak mengalami kendala dalam memenuhi kebutuhan yang terkait dengan produk pertanian. Sayangnya, hasil pertanian setempat ternyata tidak ada atau belum mencukupi sehingga harus didatangkan dari tempat lain.

Pariwisata berkelanjutan adalah model pengembangan pariwisata yang memberi ruang kepada masyarakat setempat untuk berpartisipasi aktif. Bahkan, masyarakat sekitar adalah pelaku utama pengembangan pariwisata. Maka, partisipasi masyarakat bukan sebatas menikmati remah-remah pariwisata. Tetapi, kehadiran pariwisata pada akhirnya memungkinkan peningkatan kesejahteraan bagi masyarakat setempat. Demikianlah niat baik pemerintah yang kini tengah gencar mengembangkan lima destinasi superprioritas.

Pembangunan yang intensif dalam menyiapkan berbagai sarana dan prasarana untuk memoles destinasi superprioritas semestinya dimbangi dengan penguatan sektor-sektor lain. Salah satu sektor yang patut mendapat perhatian adalah pertanian. Dengan potensi sumber daya alam dan populasi sebagian besar penduduk setempat di sekitar destinasi superprioritas sebagai petani, industri pariwisata semestinya tidak akan kesulitan untuk mendapatkan kebutuhan industri yang terkait hasil pertanian.

Terkait hal tersebut, destinasi superprioritas Labuan Bajo dapat memberikan gambaran bagaimana kebutuhan pokok industri pariwisata harus disuplai dari luar daerah. Untuk kebutuhan sayur, sebelum pandemi, lima besar produk pertanian yang terserap ke hotel restoran setiap bulan adalah kentang 1.827 kg, tomat 1.448 kg, wortel 1.234 kg, kol/kubis 1.234 kg, dan sawi hijau 1.117 kg (Astawa, dkk, 2021).

Sayangnya, hasil pertanian setempat (Kabupaten Manggarai Barat) tidak ada atau belum mencukupi. Adapun total produksi untuk kelima sayuran itu pada tahun 2018 (2019) adalah kentang  0 (0) ton, tomat 189,5 (184 ) ton, wortel 0 (13,2) ton, kol/kubis 35 (116,5 ) ton, dan sawi putih 0 (0) ton, (BPS Kabupaten Manggarai Barat, 2022).

Tampaknya, hasil pertanian setempat belum mampu memenuhi kebutuhan industri pariwisata. Hal ini tentu sangat disayangkan. Padahal, 60 % masyarakat setempat adalah petani dan nelayan. Bahkan Produk Domestik Regional Bruto masih dipegang oleh sektor pertanian.

Sebenarnya wilayah setempat cukup potensial untuk pengembangan pertanian. Sebagai gambaran, lima besar hasil pertanian Manggarai Barat pada 2018 (2019) adalah kangkung 1047,9 (1340) ton,  terung 934,5 (1301) ton, labu (944 (1621) ton, bayam 801 (1148) ton, cabai rawit 650 (480) ton (BPS Kabupaten Manggarai Barat, 2022). Dari hasil pertanian ini, hanya sebagian kecil saja yang dibutuhkan oleh industri pariwisata.

Dengan gambaran di atas, potensi pertanian tampaknya belum dioptimalkan dengan maksimal dan belum adanya ketersambungan antara kebutuhan industri pariwisata dengan hasil pertanian setempat. Hal ini memunculkan hipotesis bahwa pertanian agrikultura setempat umumnya hanya berorientasi mencukupi kebutuhan rumah tangga. Atau hipotesis lain, masyarakat masih belum berani untuk mencoba keberuntungan dengan menyediakan kebutuhan industri pariwisata. Kalaupun ada, apakah hasil pertanian itu sudah sesuai standar yang diperlukan industri pariwisata?

Salah satu penelitian mengungkapkan bahwa pihak industri pariwisata di Labuan Bajo tidak menerima hasil tani dari petani lokal dengan beberapa pertimbangan, yaitu harga relatif mahal, kualitas produk belum memenuhi standar industri, kontinuitas ketersediaan yang kurang pasti, dan tidak adanya kerja sama antara pihak industri dengan petani lokal.

Tujuan pengembangan destinasi pariwisata superprioritas adalah masyarakat di destinasi pariwisata makin sejahtera. Tujuan itu tentu tidak bermaksud bahwa kesejahteraan itu adalah sesuatu yang terberi dengan cuma-cuma. Tetapi, pengembangan pariwisata menghadirkan peluang yang bisa dioptimalkan untuk kesejahteraan masyarakat secara langsung selain melalui devisa dan pendapatan daerah melalui pajak dan retribusi.

Pertanian menjadi pintu masuk bagi keterlibatan sebagian besar masyarakat setempat dalam gerak-gerik pariwisata superprioritas. Dari data di atas, tantangan yang dihadapi adalah bagaimana menangkap peluang pariwisata dengan mengoptimalkan potensi pertanian sehingga industri pariwisata tidak mengalami kendala dalam menyediakan kebutuhan hasil tani dan masyarakat sekitar mendapatkan dampak langsung dari geliat pariwisata di daerahnya. Sejalan dengan hal tersebut, perlu adanya ketersambungan antara industri pariwisata dan pertanian setempat.

Pengembangan pariwisata sedapat mungkin memperhatikan berbagai aspek terkait sebagai satu kesatuan. Misalnya, kerangka pengembangan pariwisata tidak hanya sekedar memetakan spot wisata tetapi juga bagaimana mengoptimalkan potensi sumber daya yang lain di sekitar destinasi untuk menjamin kelangsungan dan keberlanjutan pariwisata.

Pembangunan infrastruktur tanpa perhatian terhadap pertanian setempat akan menciptakan ketimpangan bagi masyarakat lokal. Misalnya, temuan Yudhoyono (2021) ada jarak/gap dampak pariwisata antara warga Labuan Bajo dengan masyarakat yang bermukim di luar Labuan Bajo. Dampak pariwisata dirasakan oleh penduduk seputaran Labuan Bajo, tetapi masyarakat sekitar Labuan Bajo belum merasakan secara langsung dampak kehadiran pariwisata superprioritas di daerahnya.

Pendampingan dan pemberdayaan petani mesti digiatkan. Selama ini, pemberdayaan berjalan tetapi umumnya terkait dengan UMKM. Sementara pedampingan untuk para petani di tingkat desa dan kampung dalam rangka mendukung industri pariwisata belum significan. Para petani setempat didampingi agar produk pertanian mereka juga diarahkan untuk memenuhi dan sesuai kebutuhan dan ketentuan industri pariwisata.

Pemetaan dan pengembangan pertanian sesuai potensi wilayah dalam rangka mengembangkan sentra-sentra pertanian semestinya menjadi keniscayaan dalam pengembangan pariwisata. Hal ini juga menjadi peluang untuk mengembangkan agrowisata yang tentu akan memperkaya produk wisata. Masyarakat setempat tidak menjadi penonton dan menunggu jatah kue wisata yang mungkin tidak akan diperoleh. Tetapi, kue wisata itu adalah milik masyarakat yang tentunya diperoleh dengan mencucurkan keringat juga.

Leave a Comment