Istana Ular Labuan Bajo, Flores

Photo of author

By UWA

Jika tertarik dengan hewan melata ular, mampirlah di istana ular dan Pulau Ular dalam destinasi superprioritas Labuan Bajo yang terbentang dari dari Kabupaten Bima (NTB) hingga Kabupaten Alor (NTT).  Dalam kawasan destinasi ini, ada dua spot wisata ular, yaitu Pulau Ular di Kabupaten Bima dan istana ular di Kabupaten Manggarai Barat. Kedua spot wisata ini ini sudah banyak dikunjungi wisatawan.

Berikut ini, Uwa.co.id mengutarakan beberapa informasi tentang istana ular yang relatif dekat dengan kota Labuan Bajo.

Istana ular, gua tempat tinggal ular

Istana ular ini berjarak sekitar 76 Km dari kota Labuan Bajo. Spot wisata ini persisnya berada di Desa Galang, Kecamatan Welak. Dari pusat Desa Galang, istana ular berjarak kurang lebih 3,5 KM dan dari Kampung Weto sekitar 500 meter. 

Istana ular adalah gua alami dengan lorong yang sangat panjang. Konon, ada ular putih ukuran besar yang disebut-sebut sebagai raja para ular di sana. Di dalam istana ular, ada berbagai macam jenis ular dengan ukuran dan warna berbeda-beda, ada yang warna hitam, hijau, putih, belang-belang, coklat.

Mengutip Antara, diperkirakan dari pintu masuk sampai ke pintu keluar sekitar lima Km. Orang kesulitan untuk menjangkau karena kekurangan oksigen. Gua istana ular memang pengap dan berawa-rawa. Dengan kondisi gua yang panjang, pengap dan rawa, gua ini juga menjadi habitat untuk kelelawar, mangsa bagi ular di situ.

Hingga kini belum ada yang berhasil menjangkau hingga ujung lorong  gua tersebut. Diceritakan bahwa pernah ada vloger yang coba menembusi lorong gua, tetapi hanya mampu mencapai 300 meter dari mulut gua.

Legenda, kisah istana ular Labuan Bajo

Pulau ular adalah sebutan untuk Pulau Flores pada masa lalu.  Dulu, Flores disebut Nusa Nipa. Flores disebut sebagai Pulau ular karena beberapa alasan, antara lain bentuk pulau yang memanjang seperti ular, Flores adalah habitat ular dan adanya kepercayaan penduduk yang terkait dengan ular.

Hingga kini, untuk memasuki gua istana ular, mesti didahului dengan ritual adat setempat. Ritual itu berupa teing tuak dengan mempersembahkan sebutir telur ayam. Ritual itu bisa disebut sebagai ucapan permisi dan restu sekaligus panggilan kepada sesama saudara ular untuk bisa menampakkan diri kepapa pengunjung. Jika niatnya tidak baik, ular-ular itu akan merasa terganggu.

Gua Istana ular berhubungan dengan salah satu subsuku Manggarai yaitu,  suku Ronggot. Bagi warga Ronggot, ular-ular yang ada di gua tersebut adalah saudara mereka sendiri. Karena itu¸ acara ritual sebelum memasuki gua hanya bisa dilaksanakan oleh keturunan Ronggot.

Ada dua versi legenda yang beredar tentang istana ular. Pertama, ular-ular itu adalah hasil perkawinan sedarah kakak-adik yang melakukan hubungan sedarah. Mereka kemudian diasingkan dan tinggal di gua. Hasil perkawinan incest tersebut adalah ular dan kemudian kakak-adik tersebut menjadi ular juga. Dipercaya bahwa kedua orang itu masih ada sampai sekarang.

Versi yang kedua adalah pernikahan antara manusia pria dengan ular yang menjelma menjadi manusia jadi-jadian. Ular-ular yang ada di istana ular itu merupakan hasil perkawinan antara manusia dengan makhluk halus (darat/kakar tana dalam bahasa setempat). Laki-laki tersebut adalah Latim yang merupakan orang Ronggot. Kemudian, darat/kakar tana yang menjelma menjadi manusia disebut Ndasam. Kemudian ular yang menjelma menjadi perempuan cantik itu mengajak Latim untuk tinggal bersama di dalam gua sebagai suami-istri, yang kini dikenal sebagai istana ular. Ular-ular yang ada adalah hasil perkawinan antara keduanya.

Di samping legenda, masyarakat setempat meyakini  bahwa perbuatan yang dapat menyakiti ular akan berbalik kepadanya. Kalau ularnya tidak mati dan cacat, hal itu akan berbalik ke pelaku atau keturunan pelaku. Dalam bahasa setempat, hal itu disebut itang. Untuk menyembuhkan, biasanya biji kemiri dibakar. Setengahnya untuk menyembuhkan pelaku dan setengahnya lagi untuk menyembuhkan ular.

Perjalanan wisata

Istina ular gencar dipromosikan mulai pada tahun 2017. Wisata gua istana ular dikembangkan menjadi wisata minat khusus yang menawarkan sensasi dan pengalaman berbeda. Sebagai destinasi wisata, tempat ini mulai ditata dengan menyediakan fasilitas penunjang.

Istana ular agak jauh dari perkampungan. Istana ular adalah tempat istimewa bagi pencinta reptil. Pengunjung melihat ular langsung di habitat aslinya.

Untuk mencapai spot wisata ini, pengunjung menempuh perjalanan 2-3 jam dari Labuan bajo. Selah tiba di desa Galang perjalanan tinggal kurang lebih 20 menit hingga tiba di mulut gua. Sebelum sampai di titik gua, mata wisatawan akan bersua dengan pohon kemiri yang menjadi komoditas unggulan masyarakat setempat. Saat mengunjungi istana ular, dilarang mabuk-mabukan, membuang sampah sembarangan, dan apalagi kalau membunuh hewan yang ada.

Leave a Comment